Riset PTM Tahun 2016

    Penyakit kanker payudara dan serviks merupakan kanker terbanyak pada perempuan di Indonesia. Saat ini upaya untuk pengendalian kedua penyakit tersebut dilaksanakan melalui promosi kesehatan, pengendalian faktor risiko, deteksi dini, terapi, rehabilitasi dan pembiayaan kesehatan. Sampai saat ini belum ada data mengenai prevalensi, karakteristik dan faktor-faktor lain yang berkaitan dengan penyakit kanker payudara dan serviks di Indonesia yang dilaksanakan secara luas. Tujuan umum riset penyakit tidak menular ini adalah untuk mendapatkan angka prevalensi perempuan (usia 25 - 64 tahun) yang mengalami tumor payudara (Clinical Breast Examination/Sadanis positif) dan lesi prakanker serviks (Inspeksi Visual Asam asetat/IVA positif) di daerah perkotaan di Indonesia. Sadanis disebut juga pemeriksaan payudara klinis (Sadanis). Tujuan khusus antara lain untuk mendapatkan prevalensi atau proporsi tumor payudara dan lesi pra kanker serviks berdasarkan karakteristik, faktor risiko bersama dan faktor risiko spesifik, proporsi kasus baru kanker payudara dan serviks, proporsi kasus lama tumor payudara, proporsi subyek yang mempunyai Breast cancer susceptibility gene (BRCA) positif dan mengetahui tipe Human papillomavirus (HPV).

    Rancangan penelitian riset penyakit tidak menular (PTM) adalah survei komunitas. Sasaran kegiatan riset PTM adalah perempuan yang berusia 25-64 tahun dari Rumah Tangga (Ruta) yang terpilih pada blok sensus terpilih.

    Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pengukuran antropometri (tinggi badan, berat badan, lingkar perut), tekanan darah, pemeriksaan Sadanis, pemeriksaan IVA, pengambilan darah vena (untuk pemeriksaan BRCA) dan pengambilan usap serviks (untuk pemeriksaan HPV).

    Wawancara dilakukan di rumah responden oleh enumerator terlatih yang akan mengajukan serangkaian pertanyaan yang bersifat umum dan pribadi, antara lain berkaitan status perkawinan, reproduksi serta penyakit-penyakit lainya yang mungkin dialami serta faktor risiko PTM. Enumerator juga melakukan pemeriksaan antropometri dan tekanan darah di rumah responden.

    Pemeriksaan Sadanis dilakukan pada respoden yang memenuhi persyaratan. Responden akan diminta kesediaannya untuk diperiksa payudaranya oleh bidan/dokter umum yang sudah mendapatkan pelatihan. Pada kasus-kasus tertentu yang mempunyai indikasi untuk dirujuk, dilakukan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan terdekat untuk diperiksa lebih lanjut atau mendapatkan diagnosis yang lebih tepat.

    Pemeriksaan IVA dilakukan pada responden yang memenuhi syarat. Sebelum melakukan IVA, petugas mengambil cairan yang berasal dari leher rahim responden. Responden diminta kesediaannya untuk diperiksa organ reproduksinya yaitu liang kemaluan hingga leher rahim. Pemeriksaan akan menggunakan alat khusus dan dilakukan oleh bidan dan atau dokter umum yang sudah mendapatkan pelatihan khusus. Pada kasus-kasus tertentu yang dianggap perlu, pemeriksaan akan dilanjutkan dengan pengobatan krioterapi atau pemeriksaan diagnostik penunjang yang lebih spesifik di fasilitas kesehatan tingkat lanjut.

    Pengambilan darah dilakukan pada responden yang memenuhi kriteria di puskesmas oleh tenaga kesehatan. Responden diambil darah dari pembuluh darah vena di bagian salah satu lengan sebanyak 10 ml kurang lebih dua sendok teh). Darah ini akan diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor genetik kanker payudara pada tubuh subyek.

    Pemeriksaan Sadanis, IVA, pengambilan cairan leher rahim dan darah dilakukan di puskesmas terpilih. Spesimen biomedis akan dikirim ke Laboratorium Nasional Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan di Jakarta.

:: Download